tikam samurai (bagian 58-59)


Kedua temannya segera balik kanan dan mulai melangkah lebar. Namun saat itu pula sedepa di depan mereka pohon-pohon bambu pada bertumbangan kejalan yang bakal mereka lalui. Tidak hanya dua tiga batang. Pohon bambu itu tumbang dalam jumlah puluhan batang. Kempetai itu jadi kalang kabut. Ada yang tertelungkup kesandung, ada yang takapere mencoba mengelak dari bambu yang rubuh seperti hujan lebat dalam gelap itu. Datuk penghulu menatap kejadian itu dengan tersenyum tipis. Si Bungsu mulai beraksi.
Ternyata dia yang membabat rumpun bambu di pinggir jalan yang akan dilalui sebagai tempat lari oleh para Kempetai.
“Bagero. Bagerooo. Bageroo. Ute Utee Utee (tembak)”
Sersan mayor itu menghardik, memerintah dan bercarut bungkang memerintahkan agar kedua anak buahnya menembak, kearah mana saja dan apa saja. Pokoknya bedil meletus. Terdengar tiga bedil menyalak. Tapi tembakan mereka tak menentu. Ada yang menghadap ke atas. Ada yang ke tanah. Sebab pada waktu menembak mereka juga harus menghindarkan diri agar tak tertimpa pohon-pohon bambo yang runtuh seperti hujan. Lalu tiba-tiba sepi. Pohon bambu tak ada lagi yang runtuh.
Ketiga Jepang itu tegak terengah-engah. Mereka tegak dalam reruntuhan pohon bambu. Yang kelihatan kini sebatas leher ke atas. Sebatas leher ke bawah ditimbuni oleh pohon bambu. Suatu saat mereka melihat sesosok tubuh di arah pangkal pohon bambu itu, tapi karena gelap tak jelas wajahnya.
“Siapa di sana!!” si sersan membentak sambil berusaha mengangkat bedilnya yang terhalang oleh pohon bambu. Kedua temannya menoleh pula ke sana.
“Saya si Bungsu. Siapa diantara kalian bernama Atto, dan berpangkat Syo-I (Letnan dua) ?” ujar si Bungsu.
Nama yang dia tanyakan itu adalah nama pimpinan regu yang senja tadi memperkosa Mei-Mei, si Upik dan Tek Ani.
“Hei Bungsu Lebih baik kau menyerah. Kalau tidak. kau bisa ditembak..,” sersan mayor itu kembali menggertak.
“Jawab pertanyaanku. Ada diantara kalian yang bernama Atto?”
Suara si Bungsu terdengar dingin, menegakkan bulu roma yang mendengar. Jepang-Jepang ini tak mengetahui siapa si Bungsu. Tak ada cerita mengenai diri anak muda itu yang nampaknya hanya bersenjatakan sebuah tongkat itu.
Si sersan mayor itu berusaha mencampakkan bambu yang menghalanginya. Kemudian bergegas ke arah si Bungsu untuk menantangnya dengan jurus karate. Namun si Bungsu sudah sampai pada puncak sabarnya. Dia melangkah dua langkah di atas pohon bambu yang rubuh setinggi pinggang itu. Kemudian membabat bambu yang menghalangi sersan mayor tersebut. Kini sersan mayor itu bebas. Dia mengangkat bedilnya. Namun saat itulah samurai ditangan si Bungsu bekerja. Tangan Kempetai yang memegang badil itu potong keduanya. Dia meraung-raung .
“Jawab pertanyaanku. Dimana Atto!!”
Namun sersan itu bukan menjawab, dia memaki dan memerintah anak buahnya untuk menembak.
“Bageroo uteeee (tembak)” pekiknya.
Namun tak ada letusan sebuahpun. Sebab yang seorang senjatanya telah tercampak entah kemana ketika dia berusaha menghindarkan runtuhnya pohon bambu tadi. Yang satu lagi bedil memang masih di tangannya. Tapi untuk mengangkatnya ke atas untuk menembak tak mungkin. Sebab terhalang oleh pohon bambu yang menjepit tubuhnya. Saat berikutnya, suara sersan terhenti. Kepalanya belah di makan samurai si Bungsu. Perlahan si Bungsu menoleh pada kedua Kempetai yang masih tinggal.
“Kini katakan. Siapa di antara kalian yang bernama Atto?”
Dan kedua Kempetai ini ternyata juga manusia biasa, yang punya sikap amat takut mati. Begitu melihat komandannya mati dengan kepala terbelah, dan melihat mereka tak bisa selamat dari anak muda luar biasa hebat, tubuh mereka pada menggigil, yang satu malah menangis.
“Sho-I Atto ada di markas. Dialah yang memperkosa istri tet..tuan. Kami tet..tak ikut. Ampunkan kami. . .”
Si Bungsu merasa jijik pada tentara yang meminta belas kasihan itu. Dia tahu, mereka ikut dalam memperkosa keluarga Datuk Penghulu dan Mei-mei malam tadi. Dia ingin membunuhnya saat ini. Namun kedua orang itu dalam keadaan tak berdaya. Terhimpit dan terkalang oleh kedua bambu. Dan dia tak mau membunuh orang yang tak dapat melawan.
Samurainya berkelebat. Kedua Kempetai itu terpekikpekik. Tapi mereka segera menjadi malu. Ternyata samurai di tangan anak muda itu hanya membabat rumpun bambu yang menghimpit tubuh mereka. Dan tiba-tiba mereka bebas. Yang masih memegang bedil, segera menikamkan sangkur di ujung bedilnya ke perut si Bungsu yang jaraknya hanya sedepa. Namun si Bungsu lebih cepat. Dia menunduk dalam-dalam.
Kemudian…
Srep..!!
Samurainya menikam jantung si Kempetai hingga tembus ke belakang. Kempetai yang satu lagi, yang bedilnya sudah tercampak entah kemana segera mengambil langkah seribu.
Lari…

Tikam Samurai (Bagian 59)
Tapi malang, dalam paniknya d ia ternyata lari ke arah rumah Datuk Penghulu yang sudah menjadi abu. Dan dia terhenti, ketika di depannya tegak sesosok tubuh. Datuk Penghulu. Dari panik, dia menjadi nekad. Dia memasang ancang-ancang karate, dan menyerang Datuk itu dengan serangan bernama reng-geri. Yaitu serangan dua kali tendangan yang amat cepat. Yang pertama mengarah ke dada yang kedua ke perut.
Malang Kempetai ini. Lawannya adalah Datuk Penghulu. Hanya dengan sedikit memiringkan tubuh, kedua tendangan itu mengenai tempat kosong. Namun Kempetai itu, yang memiliki sabuk coklat karate, segera menyerang lagi dengan tiga pukulan yang amat cepat. Yaitu pukulan Sam-Hong Tsuki yang mengarah ke kening dan dua pukulan kejantung.
Tapi Datuk Penghulu adalah guru gadang silat Kumango. Pukulan itu tidak dia tangkis, melainkan dia biarkan lewat di sisinya. Lalu dengan suatu gerakan menyamping yang amat cepat, sikunya masuk ke rusuk si Jepang. Terdengar suara berderak dari dalam. Jepang itu terhenti nafas, tapi kembali terpekik. Rusuknya mengirimkan rasa sakit yang membuat celananya basah, rusuknya patah dua buah Kemudian kaki Datuk itu menghantam lipatan lutut si Jepang. Jepang itu jatuh berlutut.
“Ini untuk laknat yang engkau berikan kepada anak dan istriku. . .” berkata begitu, kaki datuk itu menerpa tengkuk si Jepang.
Kembali terdengar suara berderak. Leher Jepang itu seperti dihantam besi. Patah…. Tubuhnya terhantar di sana. Mati… Si Bungsu yang tegak tak jauh dari sana, menjadi ngeri melihat makan tangan dan makan kaki Datuk ini. Dia menjadi ngeri melihat bagaimana Datuk ini murka.
“Ini adalah permulaan. Sudah terlalu lama saya menahan diri untuk tidak memulai perkelahian dengan penjajah jahanam ini. Tapi mulai malam ini, saya akan membunuh mereka sebanyak mungkin. Hutang nyawa harus mereka bayar dengan nyawa Demi Allah, saya akan melakukannya” Suara Datuk itu bersipongang dalam hutan bambu yang lebat itu.
Angin berembus menggeser batang-batang buluh. Menimbulkan bunyi seperti nyanyian malam. Seperti menjadi saksi atas sumpah Datuk itu. Dan sumpahnya dia buktikan. Hari-hari setelah itu, adalah hari-hari yang penuh teror bagi balatentara Jepang di kota Bukittinggi dan sekitarnya.
Hari sudah pagi ketika perwira piket di markas Besar balatentara Jepang di Panorama merasa curiga, sebab enam orang pasukan Kempetai yang dikirim malam tadi ke tempat Datuk Penghulu belum kembali. Perwira piket itu berpangkat Tai-i (kapten) bernama Akira. Sebelum para perwira masuk kantor dia cepat-cepat mengumpulkan regu cadangan. Kemudian memerintahkan seorang chu-I (Letnan satu) memimpin dua belas Kempetai menyusul ke tempat Datuk Penghulu.
“Saya rasa regu malam tadi dalam bahaya. Kepung tempat itu dan tangkap beberapa penduduk untuk menunjukkan dimana Datuk Penghulu . . .,” demikian isi perintahnya.
Dan chu-I itu berangkat ke Tarok menaiki sebuah truk. Truk berisi dua belas orang Kempetai itu melaju mengoyak udara pagi dengan suara menggeram-geram. Di atasnya tegak dengan kukuh kedua belas Kempetai itu. Di tangan mereka tergenggam senjata yang lengkap dengan sangkur terhunus. Truk itu mula-mula menuju ke arah stasiun keret a api. Kemudian berbelok ke arah tangsi militer. Lalu berbelok lagi kejembatan besi. Meluncur terus ke arah Tarok.
Para pedagang yang sudah keluar pagi itu, pada menepi cepat-cepat begitu melihat truk dengan lampu yang dihidupkan itu lewat. Truk dengan kap terbuka dan Serdadu Jepang tegak dengan wajah keras. Tak lama kemudian mereka sampai ke daerah kampung Tarok. Mereka membelok ke sebuah jalan kecil di antara pohon bambu yang rimbun menuju ke Padang Gamuak. Sekitar dua puluh meter masuk kepalunan bambu itu, tiba-tiba di depan sebuah gerobak yang dipenuhi batang ubi kelihatan tegak. Truk tak bisa terus. Sopirnya menyumpah-nyumpah.
Letnan yang ada di depan memerintahkan seorang anak buahnya turun untuk mencampakkan gerobak sial itu ke dalam semak. Tapi sebelum dia turun, saat itulah dua bayangan tiba-tiba melesat dari balik pohon bambu ke atas truk yang terbuka itu. Kedua bayang-bayang itu adalah si Bungsu dan Datuk Penghulu. Mereka sudah menduga, bahwa Jepang pasti akan mengirimkan bantuan untuk mencari regunya malam tadi. Datuk Penghulu lalu menyusun siasat. Merekalah yang meletakkan gerobak yang dipenuhi batang ubi untuk menghalang jalan truk. Kini mereka berada diatas truk itu. Diantara sebelas serdadu Jepang yang memegang senjata dengan sangkur terhunus.
“Penjajah jahanam kalian terima pembalasan kami..”
Berkata begini, Datuk Penghulu yang baru menghambur ke atas truk itu menghantam kekiri dan ke kanan. Kempetai-kempetai yang ada di truk itu kaget melihat kehadiran kedua orang itu di atas truk mereka. Tendangan Datuk itu yang pertama mendarat di perut seorang prajurit. Tubuh prajurit itu terlipat. Matanya mendelik, mulutnya berbuih. Bukan main melinukkannya cuek itu. Teman yang di sebelahnya masih terheranheran, ketika pukulan tangan Datuk itu mendarat di hulu hatinya. Tubuhnya terhumbalang. Temannya yang berada di sisi lain dari truk itu menghunjamkan bayonetnya ke punggung Datuk Penghulu. Tapi samurai di tangan si Bungsu memutus kedua tangannya. Dia meraung. bersambung tikam samurai bagian 60…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: