tikam samurai (bagian 52-53)


Si Bungsu menarik nafas lega mendengar penuturan lelaki itu. Dia lega berada diantara para pejuang bangsanya.
“Apa yang harus saya lakukan dengan mayat ini ?” tanyanya.
“Biarkan di sini, ini urusan saya. Termasuk memberitahu isteri dan anak anaknya. Engkau bertindak benar dan cepat dengan melarikan mayatnya. Kalau Jepang sampai tahu wajah dan alamat mayat ini, maka keluarganya akan ikut punah. Syukur jejaknya engkau hapus. Kini saya rasa engkau lebih baik cepat cepat pulang kerumah Datuk Penghulu. Dia tidak di rumah, tengah menghadiri pertemuan di Kayu Tanam bersama Engku Syafei dan Etek Rahmah El Yunusiyah. Kabarnya Jepang mulai terpukul di Pilipina oleh Sekutu. Sedang diperhitungkan langkah apa yang akan diambil oleh para anggota Gyugun. Makanya engkau saya suruh pulang, tadi saya mendapat informasi bahwa ada pasukan Jepang ditugaskan menangkap Datuk Penghulu. Saya jadi ingat anak isterinya. Dan saya mendapat kabar bahwa di sana ada juga adikmu yang bernama Mei-mei. Saya hawatir dengan nasib mereka …”
Si Bungsu tertegun. Hatinya berdebar aneh. Ada perasaan tak sedap menyelusup di hatinya.
“Berapa orang Jepang kesana ?” tanyanya perlahan.
“Antara empat atau lima orang. Semuanya Kempetai …”
“Kempetai …?”
“Ya. cepatlah kesana. Yang penting kau selamatkan anak bini Datuk itu serta adikmu ..”
Si Bungsu tak banyak bicara lagi. Kalau dapat saat itu juga dia ingin berada di Padang Gamuak.
“Bagaimana tentang bendi pak Datuk? Bendi itu saya tinggalkan tak jauh dari lepau kopi itu …”
“Jangan khawatir. Telah ada yang mengaturnya. Keluarlah lewat pintu bawah. Akan ada yang mengantarmu lewat jalan memintas melalui rel kereta api …”
Lalu si Bungsu diantar melalui jalan memintas ke Padang Gamuak.
“Anak muda yang benar benar luar biasa …” kata pemilik lepau kopi itu setelah si Bungsu pergi.
“Ya. Dia telah mulai membunuhi Jepang, barangkali sudah puluhan yang mati ditangannya. Sementara pejuang pejuang baru dalam taraf rencana saja. Kita harus malu padanya …” pemilik toko bertingkat itu berkata perlahan.
“Saya tak bisa percaya ketika dahulu ada yang bercerita bahwa di Payakumbuh ada seorang anak muda yang membunuhi Jepang dengan samurai. Tapi ketika tadi dia membunuh dua Jepang itu dengan cepat, bahkan tak sempat saya ketahui bagaimana caranya, saya baru bisa yakin. Bahkan saya merasa malu karena dulu tak
yakin …” pemilik lepau kopi itu berkata lagi.
Si Bungsu tertegak di pematang sawah. Jaraknya dari tempat tegak itu kerumah Datuk Penghulu masih sekitar lima ratus meter. Tapi dia tegak dengan kaku di pematang itu karena melihat cahaya api. cahaya api itu jelas datangnya dari tengah hutan bambu. Dia berdoa semogalah api yang berkobar itu bukan dari rumah Datuk Penghulu. Dengan berdoa terus begitu, dia mempercepat langkahnya. Bahkan kini berlari melompati parit, kayu kayu dan bambu yang tumbang. Dan tiba tiba dia tertegak. Rumah itulah yang terbakar. Kini telah runtuh. Rata dengan tanah. Api masih menjilati sisa puingnya.
“Mei-meiiii….!!: dia berteriak dengan tubuh menggigil. Sepi…..
Yang menyahut hanya gemertak api memakan sisa dinding bambu rumah yang rubuh itu.
“Tek Aniiii…”
Sepi…..
Anjingpun tak ada yang melolong. Gemertak api memakan puing makin perlahan.
“Upiiiik… Mei-meiii….: Matanya mulai basah.
“Ya Tuhan, selamatkanlah mereka. Selamatkanlah mereka ya Allah …” katanya perlahan sambil mulai mengitari rumah yang telah jadi bara itu. Tiba di bahagian belakang rumah dia tertegak.
“Nauzubilah …” bulu tengkuknya berdiri.
Dekat rumpun pisang, terbaring sesosok tubuh perempuan. Kepalanya hampir putus. Perempuan itu adalah Tek Ani, isteri Datuk Penghulu. Perempuan ini jelas dibunuh setelah diperkosa. Perempuan berumur empat puluh tahun itu memang masih cantik dan bertubuh bersih. Kini dia dibunuh Jepang. Pakaiannya tak menentu. Si Bungsu jongkok. Menutup tubuh perempuan itu dengan kainnya yang tergeletak tak jauh dari situ.
Tikam Samurai (Bagian 53)
Tiba tiba dia dengar keluhan. Dia segera bangkit dan menoleh. Si Upik… Gadis berumur tiga belas tahun itu juga habis diperkosa. Pakaiannya centang perenang. Dia tersandar di rumpun bambu.
“Upik. Ya Allah, nasib apa yang menimpa kalian dik …”
Ujar si Bungsu sambil mengangkat tubuh gadis itu, sementara air matanya telah membasahi pipi. Si Upik menggeleng. Dia pegang tangan si Bungsu, kemudian berkata perlahan :
“Uda … Uda … dimana amak ?”
Si Bungsu menggigit bibir agar tak menangis. Dia segera teringat nasib dirinya. Betapa dahulu ibu, ayah dan kakaknya dibunuhi Jepang. Bagaimana dia akan mengatakan pada si Upik bahwa ibunya telah terbunuh? Bagaimana?
“Tolong carikan amak. Uda. Tadi dia diseret Jepang kebelakang. Uni Mei-mei berada di pondok di tengah rumpun bambu itu, di tempat uda latihan ….”
Gadis kecil itu terkulai kepalanya di tangan si Bungsu. Penderitaan yang tiada taranya itu telah merengut nyawanya. Si Bungsu menegadah ke langit yang gelap. Dia memeluk mayat gadis itu dan.. menangis.
“Maafkan saya Upik, Maafkan saya terlambat membantu kalian. Ya Tuhan, kenapa aku pergi pula malam ini ?”
Mayat itu dia baringkan di dekat mayat ibunya. Kemudian dia segera ingat pada Mei-mei. Seperti terbang dia menuju kepondok kecil itu. Tapi lagi lagi d ia tertegak kaku. Pondok itu sudah runtuh seperti diobrak abrik setan.
“Mei-mei ..” dia ingin berteriak memanggil.
Tapi saking cemasnya, yang keluar dari mulutnya hanyalah keluhan kecil. Keluhan diantara mata yang basah.
“Koko …” sebuah rintihan halus dekat rumpun bambu.
Rintihan itu sudah cukup bagi si Bungsu untuk mengetahui dimana gadis itu berada. Dia melompat kesana. Hari sangat gelap. namun dia mendapatkan tubuh Mei-mei tersandar kepohon bambu.
“Mei-mei …”
“Koko ..” dia peluk gadis itu.
Mei-mei ingin membalas pelukannya. Namun tangannya seperti tak ada tenaga. Tapi dia tetap juga membalas pelukan anak muda itu, di dalam hati. Si Bungsu memangku tubuh adiknya itu ke bekas rumah Datuk Penghulu. Kemudian membaringkannya di tempat bersih. Dalam cahaya api wajah Mei-mei kelihatan sangat pucat.
“Moy- moy …”
“Koko …”
Dengan suara putus putus Mei-mei menceritakan dari mula kisah kedatangan Jepang itu. Kisah dia membunuh kelima Kempetai yang akan memperkosanya itu. Kemudian menceritakan kedatangan dua belas Kempetai yang telah membakar dan memperkosa mereka bergantian.


2 responses to “tikam samurai (bagian 52-53)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: