tikam samurai (bagian 40-41)


“Masuklah ..” katanya.
Suaranya lembut. Mei-mei melangkah masuk. Pondok itu cukup besar. Berdinding bambu, berlantai tanah beratap rumbia. Seorang anak perempuan muncul. Barangkali usianya sekitar dua belas tahun. Namun tubuhnya kelihatan segar. Kusir bendi itu meletakkan tubuh si Bungsu di sebuah kamar di atas balai balai bambu. Mei-mei tegak di sisi pembaringan.
“Biarkan dia tidur …” kata kusir itu sambil melangkah ke luar kamar.
Dia minta istrinya untuk membuat kopi. Mei-mei duduk termenung di tepi pembaringan dekat tubuh si Bungsu. Anak muda itu tergolek tak sadar diri. Gadis itu meraba wajahnya. Terasa dingin dan berpeluh. Dia tegak dan berjalan kepintu.
“Pak. dia berpeluh dan tubuhnya dingin …” katanya pada kusir yang kini tengah membuka kekang kudanya.
“Biarkan saja. Dia takkan apa apa. Dia memiliki tubuh yang kuat. Sebentar lagi dia akan sembuh. Nona istirahatlah di dalam …” kata kusir itu.
Suaranya terdengar berat tapi ramah dan bersahabat. Kekawatiran yang sejak tadi bersarang di hati Mei-mei lenyap ketika mendengar suara kusir itu. Dia lalu berbalik ke kamar. Duduk di sebuah bangku kecil dekat dinding. Menatap diam diam pada si Bungsu yang masih saja tak sadar. Tak lama kemudian, terdengar suara azan dari kejauhan. Kusir itu sembahyang subuh dengan istri dan gadis kecilnya. Tak selang berapa lama setelah sembahyang subuh itu, Mei-mei mendengar suara orang datang. Dia mendengar kusir itu berjalan ke luar. Kemudian sepi. Tapi hanya sebentar. Tak lama antaranya, dia dengar suara tanah berdentam dan suara seperti orang berkelahi.
Mei-mei tertegak. Takutnya muncul. Siapa orang yang baru datang itu ? Dia tegak dan berjalan ketempat tidur di mana si Bungsu masih terbaring. Dia ingin membangunkan anak muda itu. Tapi dia tak sampai hati. Anak muda itu tidak tidur, melainkan tak sadar karena letih dikeroyok. Kini dia terbaring diam. Suara perkelahian di luar masih terdengar. Dengan perlahan Mei-mei berjalan kejendela. Dia mengintip dari lobang kecil yang terdapat di pinggir jendela. Di luar sana, dalam cahaya subuh, dia lihat orang tua yang jadi kusir bendi yang mereka tumpangi tadi, sedang berkelahi dengan seorang anak muda.
Anak muda itu kelihatan amat gesit. Namun kusir itu juga gesit. Tubuh tuanya yang malam tadi dibungkus dengan kain dan sebuah sebo, kini kelihatan terbuka. Hanya memakai celana panjang hitam tanpa baju. Tubuhnya kelihatan biasa saja, namun di balik tubuh yang biasa itu jelas terbaca tenaga yang tangguh.
“Sampai di sini dulu, Kini kau upik ..” kusir itu berkata menunjuk gadis kecil yang dia temui malam tadi.
Dari lobang kecil itu dia melihat gadis kecil anak kusir itu maju ke tengah lapangan kecil di belakang rumah itu. Gadis berusia dua belas tahun itu berpakaian seperti lelaki. Bercelana dan berbaju longgar. Dari caranya bersiap. Mei-mei segera menarik nafas lega. orang itu ternyata hanya latihan silat. Dia jadi tertarik. Ingin melihat gadis kecil itu bersilat. Gadis itu mulai membuka serangan setelah memberi hormat.
“Jangan memukul ketika menarik nafas ..” kusir itu berkata memberi petunjuk.
Gadis itu menarik lagi pukulannya yang tengah dia lancarkan. Memulai lagi langkah dari awal. Kemudian beruntun mengirimkan pukulan dan tendangan ke arah
ayahnya. Gerakan gadis itu cukup cepat. Namun dengan mudah kusir itu mengelak dan memberi petunjuk terus. Tiba tiba lelaki tua itu berhenti, lalu menghadap kepondoknya.
“Hei, Nona Jangan mengintip di situ. Kalau ingin belajar silat, datang kemari..” Seru lelaki itu.
Mei-mei cepat cepat menarik kepalanya dari lobang yang tak sampai sebesar jari itu. Dia kaget pada ketajaman firasat kusir itu. Dia duduk kembali di pembaringan dekat si Bungsu yang masih tertidur. Sesekali matanya memandang juga ke lobang kecil di tepi jendela di mana tadi dia mengintip. Suara kusir yang menyuruhnya keluar itu seperti memanggil manggilnya. Dia tatap wajah si Bungsu, hatinya jadi lega. Sebab kini wajah anak muda itu tak lagi meringis seperti tadi. Kini dia seperti benar benar tidur. Wajahnya tak lagi menahan sakit.
Nampaknya dia memang tengah tertidur lelap. Mei-mei menarik nafas lega. Di luar dia dengar lagi orang latihan bersilat. Lambat lambat dia melangkah keluar. Berjalan ke belakang. Dan tiba di pinggir lapangan berpasir yang luasnya tak sampai lima depa persegi. Di tengah lapangan Upik anak kusir itu tengah bersilat dengan lelaki muda yang tadi dia lihat bersilat dengan kusir. Kusir itu tengah tegak dengan kaki terpentang menatap ke tengah sasaran.
Mei-mei duduk di bangku bambu yang terletak di pinggir sasaran. Tak lama kemudian kedua orang itu selesai berlatih. Si Upik dengan tersenyum ramah mendekati Mei-mei. Gadis kecil itu mengulurkan tangan bersalaman. Mei-mei ikut tersenyum melihat keramahannya dan menyambut uluran tangannya.
“Nama saya Upik. Siapa nama kakak ?” tanyanya dengan suara bersahabat.
Mei-mei terharu, jarang sekali sikap bersahabat begini datang dari orang Melayu terhadap orang Tionghoa. Biasanya dia merasa diasingkan di tengah orang orang Melayu. Tapi gadis kecil ini, demikian juga ayahnya yang kusir itu, seperti telah mengenalnya dengan baik selama bertahun tahun. Sebenarnya jarak usia kedua gadis itu hanya sekitar lima tahun. Suatu jarak yang tak seberapa jauh. Si Upik benar benar gadis desa yang polos dan manja. Sementara Mei-mei adalah gadis muda yang dalam usianya yang belum seberapa itu, telah menapaki kehidupan manusia dewasa yang alangkah pahitnya dan alangkah hitamnya.
Tikam Samurai (Bagian 41)
“Nama saya Mei-mei ..” katanya sambil tersenyum.
Ketika Mei-mei melihat kusir itu menatapnya, dia segera mendatanginya. Kemudian dengan sikap hormat menyalami orang tua itu.
“Terima kasih atas bantuan Bapak kepada kami ..” katanya.
Kusir tua itu tersenyum.
“Nama saya Datuk Penghulu Basa. Kau boleh panggil saya dengan sebutan bapak atau pak Datuk. Tinggallah di sini buat sementara. Menjelang kokomu sehat. Saya rasa rusuknya ada yang patah. Berbahaya kalau dia berada di kota dalam keadaan seperti itu. Teman teman Datuk yang dia pancung semalam dan juga Kempetai pasti mencari. Siapa nama kokomu itu?”
“Bungsu. Kami baru datang dari Payakumbuh..”
“Ya. Saya ada di depan penginapan itu ketika kalian turun dari bus ..”
Datuk Penghulu Basa lalu menceritakan tentang siapa yang dibunuh oleh si Bungsu di penginapan itu. Tentang kawanan penyamun yang bermarkas di rimba buluh di lembah Tambuc itu.
“Hei, kenalkan, muridku si Salim …..”
Datuk Penghulu memperkenalkan anak muda yang tadi berlatih dengannya kepada Mei-mei. Gadis itu menyambut salam tersebut. Salim merasakan hatinya berdebar ketika menyalami tangan gadis Tionghoa yang cantik itu. Hari hari setelah itu si Bungsu dirawat oleh Datuk Penghulu di rumahnya. Dia terpaksa berbaring selama tiga puluh hari di tempat tidur. Rusuknya patah tidak hanya dua buah. Melainkan ada tiga yang kupak dimakan kaki Datuk penyamun dan anak buahnya itu.
Selama itu pula Mei-mei juga tinggal di sana. Dia sebilik dengan upik. Tiap hari Datuk Penghulu Basa tetap mencari nafkah dengan bendinya. Dia menceritakan pada Mei-mei dan si Bungsu. Jepang sebenarnya berterima kasih pada orang yang tak dikenal yang telah membunuh kawanan penyamun itu. Namun selain berterima kasih Jepang juga tetap mencari si Bungsu. Sebab betapapun jua, si pembunuh harus didengar keterangannya tentang peristiwa itu. Datuk kepala penyamun yang buntung tangan dan kakinya itu dirawat di rumah sakit. Dia masih tetap hidup. Kempetai berhasil mengorek keterangan dari mulut kepala penyamun ini tentang markas mereka di Tambuc. Jepang lalu menggerebek markas mereka dalam rimba bambu itu. Tujuh orang lagi berhasil diringkus dari sana.
Kini, orang tak merasa khawatir lagi lewat di penurunan Tambuc seperti masa masa sebelumnya. Kalau dulu, untuk ke Bukittinggi dari Tigobaleh dan sekitarnya, orang harus memutar jalan ke Simpang Limau. Atau berputar ke Banu Hampu terus ke Jambu Air. Mereka tak pernah aman lewat di penurunan Tambuc itu. Tak jarang orang menemui mayat di Batang Tambuc yang berair deras itu. Tapi kini masa seperti itu sudah lewat. Suatu hari ketika si Bungsu merasa agak baik, dia coba untuk berdiri. Sudah berlalu masa dua puluh hari sejak dia dibawa ke rumah ini.
Tiga tulang rusuknya yang patah sudah agak terasa nyaman, itu karena rawatan datuk itu anak beranak. Mei-mei dengan tambahan ramuan kering yang dia bawa dari gunung Sago. Pagi itu dia terbangun karena kicau burung dan suara bentakan bentakan di luar rumah. Dia buka jendela dan menghirup udara pagi segar yang menerobos masuk. Dilihatnya kopi sudah terletak di atas meja kecil di dalam kamar itu. Dalam sebuah gelas terletak beberapa bunga bunga kobra bunga mawar.
Pastilah Mei-mei yang meletakkannya. Seperti kebiasaan gadis itu setiap pagi selama di rumah ini. Datuk Penghulu pasti belum kembali. Sebab malam tadi dia berkata, bahwa malam ini mereka ada perlu. Kabarnya ada pertemuan pejuang di Bukit Ambacang. Datuk itu termasuk salah seorang dari pejuang itu. Ketika dia menoleh ke arah belakang, dia tertegun. Di lapangan kecil di belakang rumah itu, dilihatnya orang sedang bersilat. Yang satu pastilah si Salim. Kemenakan Datuk Penghulu. Dia kenal pemuda itu selama berada d i rumah ini. Pemuda baik dan rendah hati dan berbudi.
Yang dia hampir hampir tak percaya atas penglihatannya adalah lawan si Salim bersilat itu. Lawannya adalah seorang perempuan. Seorang gadis. Berpakaian serba hitam dan rambutnya yang panjang diikat tinggi tinggi. Pakaian yang hitam sangat kontras dengan kulitnya kuning bersih. Jurus silat yang dia bawakan amat berlawanan dengan tubuhnya yang lemah lembut, dan wajahnya yang cantik. Mei-mei. Mei-mei belajar silat Ini benar benar suatu yang luar biasa.
Di tepi lapangan, si Upik anak Datuk Penghulu Basa melihat dengan penuh perhatian. Sesekali gadis kecil itu bersorak bila tendangan atau pukulan Mei-mei mengenai tubuh Salim. Atau sesekali gadis itu berseru berang bila kebetulan pemuda itu mengenai tubuh Mei-mei. Si Bungsu benar benar terpesona. Dia tak mengerti silat. Tapi melihat gerakan Mei-mei, dia yakin gadis itu sudah mulai cepat dengan kaki dan tangannya. Padahal baru dua puluh hari dia belajar.
Saat itu, ketika Salim berniat menangkap pukulan tangan Mei-mei, gadis itu membiarkannya. Ketika Salim berniat menguasai tangan tersebut, di luar dugaan, kaki kiri Mei-mei yang berada di belakang kaki kanannya, menendang kedepan dengan kuat dan cepat sekali. Tendangan itu demikian telaknya. Salim baru menyadari bahaya tendangan itu ketika sudah terlambat.


2 responses to “tikam samurai (bagian 40-41)

  • Baju For Sale | Pakaian Adat Tradisional

    […] .catablog-row {min-height:100px; height:auto !important; height:100px;} .catablog-image {width:100px;} .catablog-title {margin:0 0 0 110px !important;} .catablog-description {margin:0 0 0 110px; !important} .catablog-images-column {width:100px;} .catablog-gallery.catablog-row {width:100px; height:100px;} .catablog-gallery.catablog-row .catablog-image {width:100px; height:100px;} .catablog-gallery.catablog-row .catablog-image img {width:100px; height:100px;} .catablog-gallery.catablog-row .catablog-title {width:90px;} Pakaian Tradisional Nusantara I (Jawa & Bali) tennis-nusadua – Blog Informasi Untuk Indonesia5 Tempat Wisata Mumi Di DuniaWisata Eropa, Umroh Plus,tikam samurai (bagian 40-41) […]

  • tikam samurai (bagian 38-39) | tikamsamurai

    […] Tikam Samuarai Bagian 40-41 KLIK disini […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: