tikam samurai (bagian 36-37)


Padahal yang mereka rampok hanya orang-orang sebangsanya, mana berani mereka merampok tentara Jepang. Tapi malam ini mereka mendapat pelajaran pahit
dari anak muda ini. Untung saja anak muda ini tak mengetahui sepak terjang mereka selama ini. Kalau saja si Bungsu tahu, mungkin kelima lelaki ini sudah mampus semua. Bungsu merasa lega karena dia lepas dari pengawasan Kempetai. Kalau saja mereka tahu, bahwa dialah yang membunuhi Jepang di bulan-bulan terakhir ini, mungkin dia akan mati mereka tembak di dalam bus ini. Untung saja mereka tak tahu.
Sementara itu Mei-mei menatap si Bungsu dengan perasaan takjub. Dia merasa takjub, dan amat berdebar mendengar ucapan si Bungsu yang terakhir pada Jepang itu : “Isteri saya ini sakit lepra .. akan dibawa kerumah sakit”
Kata kata Isteri saya ini yang diucapkan si Bungsu mengirimkan denyut amat kencang kejantungnya. oh, kalau saja benar bahwa anak muda ini menjadi suaminya, alangkah bahagiannya dia. Dia merasa aman dalam pelukannya. Merasa tentram dan terlindungi di sisinya. Si Bungsu merasa gadis itu tengah menatapnya. Dia balas menatap.
“Moy- moy ..” katanya sambil tersenyum.
“Koko..”
“Sebentar lagi kita akan sampai di Bukittinggi ..” bisiknya.
Mei-mei hanya mengangguk. Kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu si Bungsu. Bus itu tadi dicegat lagi oleh Kempetai di pos penjagaan di Baso. Mereka memang tengah mendekati Bukittinggi. Kota itu mereka masuki hampir tengah malam.
“Antarkan saya kepenginapan ..” si Bungsu berkata pada sopir.
“Ya .. ya..” sopir yang masih merasa ngeri pada samurai di tangan anak muda yang berada di belakangnya ini menjawab cepat.
Bus berhenti di sebuah penginapan di Aur Tajungkang. Sebelum turun, si Bungsu menoleh kepada ke lima lelaki yang masih tersandar dan luka luka itu. “Saya tak pernah menyusahkan sanak sebelum ini. Saya tak mau kita berurusan lagi. Ingatlah itu..” katanya berlahan
Kemudian dia membimbing tangan Mei-mei turun dari bus. Meninggalkan para rampok itu terperangah. Diam dan mati kutu. Dua orang perempuan separoh baya yang sejak tadi duduk ketakutan di belakang, ikut bergegas turun di penginapan itu. Mereka adalah dua orang perempuan yang berjualan kacang dan jagung dari Bukittnggi ke Payakumbuh dan Padang Panjang. Ketika mereka sama sama mendaftar di penginapan kecil itu, kedua perempuan itu menceritakan tentang perampokan yang beberapa kali pernah terjadi terhadap pedagang pedagang.
“Apakah kelima orang tadi adalah perampok itu ?” tanya si Bungsu.
“Tak tahu kami. Kebetulan kami tak pernah mengalami nasib kena rampok. Tapi beberapa teman yang telah pernah mengalami mengatakan, bahwa perampok perampok itu memang orang awak jua. Dan caranya memang seperti tadi. Sama sama menompang bus. Kemudian berhenti di tempat sepi. Untung ada anak muda. Kalau tidak. pastilah kami yang kena rampok …”
Si Bungsu terdiam. Kemudian mereka masuk kekamar karena hari sudah larut malam. Karena semua kamar penuh, maka dia terpaksa satu kamar dengan Mei-mei. Untung dalam kamar itu ada dua tempat tidur.
“Tidurlah Moy- moy. Besok kita cari famili ibumu yang di Kampung cina..” katanya perlahan
“Koko tidak tidur ?”
“Ya. Saya juga akan tidur. Tapi saya akan sembahyang dulu”
Dia lalu berganti pakain dengan kain sarung. Kemudian ke kamar mandi berudhuk. Mei-mei belum tertidur. Dia melihat anak muda itu sembahyang. Dia melihat tubuh anak muda yang semampai itu. Bermuka lembut atau lebih tepat dikatakan murung. Sinar matanya sayu. Ketika si Bungsu selesai sembahyang Isa, ketika dia menoleh mengucapkan salam dia melihat Mei-mei belum juga tidur. Masih menatap padanya. Dia tersenyum pada gadis itu.
“Belum tidur Moy-moy ?”
Mei-mei menggeleng. Kemudian duduk di sisi tempat tidur. Si Bungsu masih duduk di lantai yang beralas tikar. Mei-mei pindah duduk ke bawah, duduk tak jauh dari si Bungsu.
“Koko sembahyang apa ?”
“Isa ..”
“Kenapa orang Islam harus sembahyang lima kali sehari semalam ?”
“Karena begitu suruhan Tuhan ..”
“Tidak melelahkan ?”
Bungsu menatap Mei-mei. Dia tersenyum. Pertanyaan begitu pernah memenuhi tengkoraknya dulu. Ketika ayahnya selalu menyuruhnya sembahyang. Waktu itu dia bukan hanya sekedar bertanya, tapi malah membangkangi suruhan ayahnya. Tak mau sembahyang. Buat apa sembahyang, pikirnya. Kesempatan untuk
bersuka ria adalah waktu muda. Kelak kalau sudah tua, barulah sembahyang. Lagi pula, sembahyang lima kali sehari semalam, alangkah seringnya. Kenapa sembahyang itu tidak hanya sekali seminggu, atau paling tidak sekali dua hari misalnya. Itu mungkin lebih ringan.
Namun ketika sendirian di Gunung Sago, ketika dia bersujud menyembah Allah di tengah belantara, dia merasakan betapa tentram hatinya saat dan setelah sembahyang. Dia merasakan betapa Tuhan melindunginya. Dia merasakan suatu kedamaian setiap selesai sembahyang. Dia merasakan seperti mendapat tenaga dan semangat baru selesai sholat. Ya, itulah intinya. Menemukan kedamaian dan ketentraman, menemukan semangat dan tenaga baru, setelah mengerjakan suruhan Tuhan. Perlahan dia menjawab pertanyaan Mei-mei,
“Tidak ada pekerjaan yang melelahkan, bila pekerjaan itu dikerjakan dengan ikhlas. Apalagi kalau kita mencintai pekerjaan itu Moy-moy”
Mei-mei menatapnya.
“Engkau pernah sembahyang Moy-moy ?”
Mei-mei menggeleng.
“Waktu kecil bersama ibu saya pernah sembahyang. Tapi semenjak ibu meninggal, saya tak lagi pernah melakukannya ..” ujar Gadis itu sembari menunduk.
“Nah, tidurlah Moy-moy. Koko juga mengantuk ..”
Namun mereka belum sempat membaringkan dirinya di tempat tidur, ketika terdengar suara heboh. Suara heboh itu diikuti oleh suara menggedor pintu kamar mereka.
“Hei beruk yang ada di dalam. Buka pintu ini cepat”
Suara berat terdengar memerintah. Dari suara yang berbahasa Minang itu, si Bungsu segera tahu bahwa orang di luar adalah lelaki asal daerah ini. Dia menatap pada Mei-mei yang tertunduk di tepi pembaringan. Kemudian mengambil samurainya. Kemudian melangkah kepintu.
“Tenang saja di dalam Moy- moy. Jangan buka pintu kalau bukan saya yang menyuruhnya..”
“Koko ..” gadis itu berlari memeluknya.
“Tenanglah ..”
“Jangan tinggalkan saya koko ..”
“Tidak. Saya akan kembali ..”
“Saya akan bunuh diri kalau koko meninggalkan saya..”
“Tenanglah. Nah kunci pintu ..”
Tikam Samurai (Bagian 37)
Dia muncul di gang di luar kamarnya. Di depan pintu, orang lelaki berjambang kasar tegak berkacak pinggang. Begitu dia muncul, lelaki itu mencekal lengannya. Kemudian menariknya keruang tengah. Mendorongnya hingga si Bungsu terjajar.
“Ini beruk yang waang katakan itu Pudin ?” orang bertubuh kasar itu berkata.
Si Bungsu menatap pada orang itu. Dan dia segera kembali mengenali kelima lelaki yang mencoba merampoknya tadi. Di sana juga ada sopir bus.
“Benar. Dialah orangnya Datuk ..” jawab si Kurus.
Orang bertubuh besar itu menggerendeng. Sementara penghuni penginapan yang lain tak berani menampakkan muka. Mereka lebih merasa aman berada rapat rapat di bawah selimut daripada mencampuri urusan orang yang satu ini.
“Waang telah melukai anak buah saya buyung. Itu hanya bisa dibayar dengan dua hal. Pertama dengan seluruh isi bungkusan yang waang bawa. Atau kalau waang keberatan, maka harus waang bayar dengan nyawa waang dan tubuh bini waang …” dan si Tinggi besar itu meludah.
Hampir saja dahaknya mengenai kepala si Bungsu. Si Bungsu tegak dengan diam. Muaknya muncul melihat lelaki ini. Dia teringat lagi akan cerita kedua perempuan yang sama sama satu bus dengannya tadi. cerita tentang perampokan yang dilakukan oleh orang Minang terhadap orang orang yang bepergian dengan bus. Dia lihat, selain si Besar tinggi ini, masih ada temannya yang lain. Jumlah mereka kini sembilan orang. Hanya yang menjadi heran di hatinya adalah keberanian penyamun penyamun ini muncul di tengah kota. Nampaknya mereka tak merasa gentar sedikitpun pada Kempetai Jepang.
Selama hidup beberapa bulan di Payakumbuh, si Bungsu mengetahui, bahwa tentara pendudukan Jepang menjalankan roda pemerintahan dengan ketat. Mereka menangkapi para penjudi dan perampok. Kini sembilan lelaki ini berani muncul di tengah kota. Apakah mereka memang orang bagak. yang pada Kempetai sekalipun mereka tak merasa takut? Atau barangkali karena hari sudah lewat tengah malam, mereka tahu bahwa bakal takkan ada patroli Kempetai. Atau barangkali mereka memang dilindungi oleh Jepang ?
Tapi dia tak sempat berfikir dan menyimpulkan pikirannya. Datuk bersisungut (berkumis) dan bertubuh besar itu telah memberi isyarat pada kedua anak buahnya. Dan kedua lelaki itu segera bertindak. Yang satu menangkap tengkuk si Bungsu, yang satu lagi memegang tangannya. Si Bungsu menghantamkan samurainya yang masih bersarung itu. Kayu samurai tersebut menghantam leher dan kepala lelaki itu dengan keras. Kedua lelaki itu terpekik. Namun mereka maju lagi dengan berang. Namun itu sudah cukup. Di mana Mei-mei berada. Kedua lelaki itu berhenti sedepa di depan si Bungsu. Sebuah kilatan cahaya putih yang amat cepat menahan gerakkan mereka. Mereka tertahan karena tiba tiba saja setelah kilat cahaya yang amat cepat itu, dada mereka merasakan terasa amat pedih. Dan ketika mereka lihat, pakaian mereka telah robek lebar dari pundak ke perut. Dari balik pakaian yang robek seperti disayat pisau silet itu, merembes darah segar. Mereka memang tidak rubuh. Karena si Bungsu hanya sekedar melukai mereka saja.
“Hari telah larut malam. Saya tak bermusuhan dengan kalian. Saya harap jangan menganggu kami ..” ujar si Bungsu datar.
Sementara samurainya telah masuk kesarungnya kembali. Di sudut lain, dua lelaki yang tadi berjalan ke kamar dimana Mei-mei berada, sekali mendobrak berhasil menghantam pintu kamar sehingga terbuka. Terdengar pekikan Mei-mei. Si Bungsu bergerak ke kamarnya. Namun Datuk yang tak diketahui namanya itu menghadangnya bersama empat temannya yang lain. Dan saat itu kedua lelaki yang masuk kamar tadi muncul dengan bungkusan mereka dan Mei-mei dalam ringkusan tangannya. Nyata sekali gadis itu menderita akibat cengkeraman tangan orang yang meringkus bahunya.
Koko .. rintihannya dengan air mata yang mengalir. Melihat hal itu si Bungsu menatap Datuk bersungut itu dengan kemarahan besar. Datuk itu dapat membaca kemarahan itu. Dia menyeringai dan berkata :
“Hee .. waang beruntung buyung, bisa berbini cina. Tentu lamak(enak) ya ..? He .. he ..saya juga ingin mengicok(mencoba) sedikit. Kau boleh menonton ..”
Habis berkata Datuk buruk bersungut ini berbalik. Menarik tangan Mei-mei. Wajah si Bungsu menegang. Dia sebenarnya tak ingin menurunkan tangan kejam lagi pada bangsanya sendiri. Dia tak bisa menghitung sudah berapa banyak nyawa yang telah dia rengut lewat samurainya. Namun dari sebanyak itu yang terbunuh, baru dua orang Minang yang jadi korban. Baribeh dan si Juling yang dia bunuh bersama si Babah mata mata itu.
Kedua orang itu memang berhak mendapatkan kematian. Sebab mereka memata matai perjuangan bangsanya sendiri. Bekerja untuk cina yang jadi mata mata Jepang. cina yang menjadi penggerak Komunis. Tapi kini nampaknya dia terpaksa berlaku kejam lagi. Sejak tadi dia bersabar. Membiarkan dirinya dibekuk dan diseret dari depan kamar. Membiarkan dirinya dihina.
Tapi ketika si Datuk kalera itu merobek baju Mei-mei dan gadis itu terpekik, saat itu pula samurainya di tangannya bekerja. Tiga lelaki yang tegak tak jauh darinya, yang tadi ikut bersamanya dalam bus dan berusaha merampok mereka, terpekik dan rubuh dengan dada belah. Mati. Datuk itu tertegun. Teman temannya yang lain kaget.
“Ohooo ..jual lagak waang pada saya ya ? Waang sangka saya takut dengan permainan samurai waang itu he”
Sehabis ucapkannya tangannya bergerak menyentak kain Mei-mei. Pakaian gadis itu robek lebar. Dan dengan jahanam sekali, tangan Datuk itu meremas dada gadis itu. Mei-mei terpekik. Dengan cepat setelah mencabik baju Mei-mei Datuk itu berbalik menerjang kearah si Bungsu. Bukan main cepatnya kejadian itu berlangsung. Mulai dari menyobek baju hingga menyerang, hanya berlalu beberapa detik. Si Bungsu masih tertegun ketika serangan datuk itu datang. Dia berusaha mengelak. Namun Datuk ini seorang pesilat yang tanngguh bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: