tikam samurai(bagian 16-17)


Tapi senja ini perempuan-perempuan di Lundang itu merasa surprise bercampur heran. Sebab kesana datang seorang anak muda. Meskipun wajahnya murung, namun tak dapat disangkal bahwa dia seorang yang gagah. Sinar matanya yang kuyu justru membuat perempuan-perempuan kembang di sana menjadi tertarik. Sejak senja tadi dia ”dikawal” oleh dua perempuan. Untuk ukuran disana, kedua perempuan itu adalah perempuan pilihan. Biasanya mereka hanya mau melayani opsir-opsir berpangkat tinggi. Paling rendah yang berpangkat kapten. Tak sembarangan saja mereka mau melayani orang. Senja ini keduanya merasa perlu melayani anak muda itu. Soalnya belum pernah mereka dikunjungi urang awak, gagah pula. Mereka bercerita perlahan hilir mudik. Bercerita di bawah bayangan pohon cery. Minum teh manis dan makan pisang goreng. Anak muda itu kelihatannya bukan dari golongan orang berada. Pakaiannya sederhana saja. Pakai baju gunting Cina, celana Jawa dengan kain sarung menyilang dari bahu kiri ke kanan. Di tangannya ada sebuah tongkat kayu. Kalau saja dia pakai Saluak, maka orang akan percaya bahwa pastilah dia seorang penghulu. Gayanya memang mirip seorang kepala kaum. ”Nampaknya uda tengah menanti seseorang….”, perempuan yang bekulit hitam manis, berhidung mancung dengan mata yang gemerlap dan menarik, berkata. Dia memperhatikan anak muda itu beberapa kali melirik ke gerbang setiap ada orang yang datang. ”Ada teman yang akan datang?” perempuan itu bertanya lagi. ”Ya, saya menanti seseorang.” ”Perempuan?” ”Tidak, bukankah kalian sudah ada?” ”Ya. Tapi kenapa sejak tadi hanya duduk saja di sini? Ayolah ke rumah…”. Perempuan yanng satu lagi, yang berkulit kuning dan dan bertubuh montok, berkata sambil menarik tangan anak muda itu. Umur kedua perempuan itu barangkali tak lebih dari 22 tahun. Masih terlalu muda. ”Tunggulah. Sebentar lagi mungkin dia datang. Tapi bagaimana saya akan ke rumah, kalian berdua.” ”Tak jadi soal. Bisa gantian toh Uda?” ujar perempuan hitam manis itu sambil mengerdipkan matanya yang indah. Muka anak muda itu jadi merah. Dia melirik ke meja di seberang sana, pada beberapa serdadu dan opsir Jepang yang sedang minum. Rasanya dia mengenal dua orang diantara mereka. Dia coba mengingat-ingat. ”Bagaimana? Ayolah ke rumah!” Perempuan cantik berkulit kuning itu merengek lagi sambil menarik tangannya. Saat itulah salah seorang dari serdadu Jepang yang duduk tak jauh darinya berdiri. Berjalan menuju meja di mana mereka duduk. Tubuh Jepang itu berdegap. Dia menatap pada kedua perempuan yang ada di samping anak muda itu. ”Hmmm…nona mari ikut aku…” katanya sambil memegang tangan si hitam manis. Perempuan itu menyentak tangannya. ”Maaf Kamura, saya sedang ada tamu…”, ujarnya mengelak. Jepang yang bernama Kamura dan berpangkat Gun Syo (Sersan Satu) itu menyeringai. Menatap pada tamu yang disebutkan si hitam manis tersebut. Ketika yang dia lihat tamunya itu hanyalah seorang lelaki tanggung, pribumi pula, dia tertawa. Memperlihatkan seringai yang memuakkan. ”Ha, kalian orang ada berdua. Ada si hitam ada si kuning. Kamu jangan serakah ya. Saya bawa yang hitam manis ini…” Jepang itu berkata sambil tetap menyeret tangan si hitam manis. Tak ada daya perempuan itu selain menuruti kehendak Kamura. Teman-temannya tertawa dan bertepuk tangan. Sementara itu si cantik berkulit kuning segera merapatkan duduknya dan memegang lengan anak muda itu erat-erat. ”Cepatlah kita ke bilik. Nanti datang yang lain membawa saya…”, perempuan itu merengek lagi. Anak muda itu, yang tak lain dari pada si Bungsu tak mendengar ucapan si cantik ini. Pikirannya tengah melayang. Dia coba mengingat seringai buruk Gun Syo Kamura tadi. Dimana dia pernah melihatnya? Tiba-tiba kini dia ingat. Bukankah Jepang itu yang menghadangnya ketika dia akan mendekati ayah, ibu dan kakaknya sewaktu penyergapan di rumah mereka dulu? Dia ingat peristiwa itu. Ayah, kakak dan ibunya baru saja diperintahkan untuk keluar dari persembuyian di atas loteng oleh Kapten Saburo. Ketika mereka muncul di tangga rumah Gadang, si Bungsu yang berada di antara kerumunan penduduk berlari ke depan sambil memanggil ayah dan ibunya. Tapi seorang serdadu Jepang bertubuh kurus menghadangnya. Dia berhenti, menatap pada serdadu kurus itu. Serdadu itu menyeringai. Dia tertegak ngeri di tempatnya. Nah, serdadu itulah tadi yang membawa si hitam manis ke atas. Dia tandai seringainya itu. Tadi dia lupa karena serdadu itu tubuhnya tidak lagi kurus seperti belasan purnama yang lalu. Kini tubuhnya besar berdegap. Senang nampaknya dia di Lima Puluh Kota ini. ”Kita masuk?” si cantik kuning itu gembira melihat dia tegak. Si Bungsu menatapnya. ”Ya. Kita masuk..” katanya. Dengan gembira si kuning itu memegang tangannya. Kemudian membimbingnya ke atas rumah di mana Kamura tadi juga masuk bersama kawannya si hitam manis. Di dalam kamar, si kuning cantik itu mendudukkan anak muda berwajah murung itu di tempat tidurnya yang beralaskan kain satin dan berbau harum. ”Duduklah. Mau minum apa?” tanyanya dengan manja. Si Bungsu menatap perempuan itu. Menatapnya diam-diam. ”Jangan memandang seperti itu Uda. Hatiku luluh uda buat….”, katanya manja sambil memegang kedua belah pipi si Bungsu. ”Kulihat engkau mencari seseorang kemari…” perempuan itu berbisik. Si Bungsu masih duduk diam. ”Kulihat engkau mengenali dan menaruh dendam pada Jepang yang tadi membawa temanku si hitam itu….” perempuan itu berkata lagi perlahan.
tikam samurai bagian 17
Si Bungsu mengagumi ketajaman penglihatan perempuan ini. ”Di balik matamu yang sayu, di balik wajahmu yang murung, tersimpan lahar gunung berapi. Yang akan memusnahkan orang-orang yang kau benci. Sesuatu yang sangat dahsyat dalam hidupmu pastilah telah terjadi. Sehingga engkau menyimpan demikian besar gumpalan dendam di hatimu. Apakah keluargamu dilaknati oleh Jepang?” Si Bungsu benar-benar terkejut mendengar ucapan perempuan ini. Dia menerkanya seperti membaca halaman sebuah buku. ”Upik, siapa namamu?” tanyanya sambil menatap perempuan cantik itu. ”Tak perlu engkau ketahui. Setiap lelaki yang datang kemari menanyakan namaku. Kemudian mereka akan melupakannya.” ”Katakanlah, siapa namamu!” ”Mariam…” ”Mariam?” ”Ya” ”Apakah itu namamu yang sebenarnya?” ”Tak ada yang harus kusembunyikan. Sedang kehormatan saja di sini diperjual belikan. Apalah artinya menyembunyikan sebuah nama.” ”Maaf. Tapi engkau menerka diriku seperti sudah demikian engkau kenali…” ”Bagi orang lain mungkin sulit buat menebak siapa dirimu. Tapi tidak bagiku. Aku kenal apa yang ada dalam hatimu, karena aku juga mengalami hal yang sama…” ”Keluargamu dibunuh Jepang?” ”Tepatnya suamiku…” ”Suamimu?” ”Ya. Aku yatim piatu. Ibu dan ayah meninggal setelah aku menikah dan suamiku di bunuh Jepang karena tak mau ikut ke Logas.Kemudian diriku mereka nistai. Tak cukup hanya demikian, aku mereka seret kemari. Pernah kucoba untuk melarikan diri, tapi negeri ini tak cukup luas untuk lepas dari jangkauan tangan Kempetai. Akhirnya aku diseret lagi kemari untuk memuaskan nafsu mereka. Di sini aku…hidup dan menanti mati.” Perempuan itu mulai terisak. Si Bungsu jadi luluh hatinya. Perempuan secantik ini, yang barangkali sama cantiknya dengan Renobulan, bekas tunangannya dulu. Atau dengan Saleha. Atau dengan Siti. Kini terdampar di Lundang ini. Penuh noda. Dibenci orang kampungnya. Namun tahukah mereka apa penyebabnya maka dia sampai kemari?” ”Mariam. Dimana kampungmu…” tanyanya sambil memegang bahu perempuan itu. Perempuan itu menghapus air mata. Berusaha menahan tangis. ”Saya berasal dari Pekan Selasa…”, jawabnya perlahan. ”Engkau kenal siapa yang menistai dirimu dan yang membunuh suamimu, Mariam?” ”Jepang yang tadi membawa teman saya, yang berkulit hitam manis itu salah seorang di antara mereka….” ”Maksudmu Jepang yang tadi dipanggil dengan nama Kamura oleh temanmu itu?” Mariam mengangguk. ”Jahanam. Dia jugalah yang dulu ikut membantai kedua orang tuaku dan kakakku. Dia yang menerjangku ketika aku lari ke arah ayahku…” desis si Bungsu. ”Siapa lagi yang kau kenal Mariam?” ”Saya tak ingat. Tapi komandannya adalah Saburo…” Si Bungsu tersentak. ”Saburo?” katanya mendesis tajam. ”Ya, Saburo!. Kenapa…?” Mariam tertegun kecut melihat sikap si Bungsu. ”Dialah yang telah membunuh ayah, ibu dan memperkosa kakakku sebelum dia dibunuh. Kemudian dialah yang membabat punggungku dengan samurainya. Jahanam. Di mana dia kini…?!” Suara Si Bungsu hampir saja tak bisa di kontrol jika tidak cepat-cepat mulutnya ditutup dengan tangan oleh Mariam. ”Tenanglah. Kamura di sebelah. Saya tak tahu dimana Saburo. Sudah lama dia tak datang kemari. Padahal biasanya tiap malam dia pasti datang…” ”Mariam. Apakah engkau tak berniat untuk meninggalkan tempat ini?” ”Kemana?” ”Kemana saja. Asal jangan kembali ke tempat ini. Barangkali kau bisa hidup dengan tenang si suatu tempat. Dengan seorang suami….” Mariam mulai lagi terisak. ”Siapa yang tak menginginkan kehidupan yang tentram dengan seorang suami? Itulah dulu yang kuinginkan ketika kawin dengan pemuda yang kucintai sampai Saburo membunuhnya. Dan kini, siapa lagi lelaki yang mau menerimaku sebagai isterinya?” ”Tapi engkau juga tak mungkin di sini terus Mariam…” ”Lalu akan kemana aku?” ”Carilah suatu tempat yang jauh dari sini. Mungkin ada lelaki yang mencintaimu. Engkau masih muda dan …. cantik….” ”Takkan ada yang mau, apalagi bila mereka tahu siapa aku…” ”Engkau belum mencobanya. Jangan menyerah sebelum kau coba….” ”Baiklah, akan kucoba sekarang. Aku mau meninggalkan tempat ini. Aku mau pergi kalau kau menikahiku. Apakah kau bersedia menjadi suamiku?” Si Bungsu tertegun. Dia tak menduga perempuan ini akan berkata begitu. Melihat dia tertegun, Mariam berkata lagi. ”Jangan coba mengelak dengan mengatakan bahwa engkau telah punya isteri. Saya mengenal lelaki yang telah kawin dengan yang masih bujangan. Nah, maukah engkau menikah denganku?” Perempuan itu menatap nanar padanya. Si Bungsu terdiam, peluh mulai membasai tubuhnya. Mula-mula dia masih bisa menatap Mariam. Tapi kemudian dia tertunduk Mariam terisak. Menelungkup di tilam tipis di pembaringannya. Si Bungsu jadi serba salah. Perlahan dia pegang bahu perempuan itu, mendudukkannya, kemudian tiba-tiba Mariam memeluknya sambil menangis. ”Diamlah…jangan menangis..” ujarnya pelan. Ketika perempuan itu masih terisak, perlahan di pegang wajahnya. Entah apa yang mendorongnya, tahutahu pipi perempuan itu diciumnya. Lalu..dengan lembut ciumannya pindah ke bibir perempuan itu. Perempuan itu sesaat masih terisak. Kemudian terdiam, lalu membalas ciuman si Bungsu. Tapi kemudian tiba-tiba dia melepaskan bibirnya dari bibir si Bungsu. Si Bungsu kaget dan malu. ”Aku perempuan pertama yang kau cium, Uda?” Mariam bertanya dengan suara gemetar. Si Bungsu ingin mengangguk. Namun anggukannya tak jadi. Ingin menggeleng, tapi dia tak bisa berdusta. Perasaan malu dan takut bercampur aduk. ”Terima kasih Uda. Engkau membuat aku bahagia. Akan kukenang ciuman ini,” Mariam berkata sambil menghapus air matanya. Si Bungsu menarik nafas lega, kemudian berkata pelan. ”Menghindarlah dari rumah ini Mariam. Akan terjadi huru-hara sebentar lagi…” ”Sudah lama aku memimpikan melihat seorang Minangkabau melawan Jepang. Membunuhnya, berkelahi dengan mereka. Mungkin mereka akan mati. Namun di hatiku, mereka tetap seorang pahlawan. Sudah lama aku ingin melilhat hal itu terjadi. Betapa seorang lelaki Minangkabau tegak dengan perkasa menghadapi samurai Jepang yang zalim itu. Dan kini barangkali aku akan melihatnya. Kenapa aku harus pergi? Tidak, aku akan berada di sini sampai huru hara itu usai, Uda…” Si Bungsu tak lagi bekata. Dia tegak dan melangkah. Kemudian membuka pintu. Berbelok ke kanan. Menerjang pintu kamar dimana Kamura tadi masuk dengan perempuan berkulit hitam manis itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: