tikam samurai (bagian 10)


”Saleha….buka pintu” Dia memanggil ke rumah. Seorang gadis membuka pintu dengan ragu-ragu. Gadis berkulit kuning berwajah bundar itu menatap pada ayahnya, kemudian menatap ke rumah-rumah di sekitarnya dengan perasaan cemas. ”Bukalah, sediakan air panas di panci dan kain bersih. Cepat” Gadis itu cepat menghilang ke belakang saat ayahnya membawa si bungsu naik dan mendudukkannya di ruang tengah, di atas tikar pandan yang bersih. Saleha muncul lagi membawa baskom dengan air hangat-hangat kuku serta sehelai kain lap bersih. ”Bapak akan susah karena bantuan bapak ini….” Si bungsu berkata perlahan Untuk pertama kali gadis anak imam itu menatap padanya. Pada wajahnya yang memar dan mulut serta hidungnya yang berdarah. Si Bungsu juga menatap padanya. Mereka sebenarnya sudah saling mengenal bertahun-tahun. Bukankah mereka tinggal sekampung? Hanya saja alangkah asingnya dia terasa di kampung ini. Dan gadis ini, anak Imam yang merupakan salah satu bunga di kampungnya ini, juga menatapnya dengan perasaan asing. ”Terima kasih atas air dan kain lapnya Saleha…..” dia bekata perlahan. Gadis itu tak menjawab. Dia masih menatapnya diam-diam. Memperhatikan anak muda yang oleh orang kampung disebut telah menjual kampung inipada jepang beberapa waktu yang lalu. Menatap pada anak muda yang terkenal pemain judi nomor satu itu. ”Sediakan nasi. Kami akan makan bersama. Mana Sawal?” Imam itu memberi perintah, sekaligus bertanya sambil membersihkan muka si bungsu. Saleha masih terdiam. Dia heran kenapa ayahnya mau membantu sampai membersihkan wajah penjudi ini. ”Kemana Sawal?” kembali Imam itu bertanya. ”sudah sejak kepetang dia tidak pulang” ”sediakanlah nasi….” Namun sebelum Saleha beranjak. pintu digedor orang dari luar. Wajah Saleha berobah pucat. Demiklan juga Imam itu. ”Pak Imam….Pak Imam…. cepat buka pintu” terdengar suara lelaki dari luar. Mereka berpandangan. Si bungsu bersandar. Menatap pada Iman dan Saleha yang pucat. Dan tiba-tiba tanpa dibuka, pintu didobrak dari luar. Dua orang lelaki masuk. Si bungsu segera mengenalnya sebagai orang yang tadi ikut mengeroyoknya. Kedua lelaki itu sejenak tertegun memandangnya. ”Ada apa Leman?” Imam tersebut bertanya sambil berdiri. ”Sawal pak Imam….” ”Ada apa dengan Sawal…” ”Dia ditangkap Kempetai bersama Malano….” Saleha terpekik. Imam itu sendiri tertegun. Nama Kempetai membuat tubuhnya jadi lemah. Intel tentara jepang itu terkenal kekejamannya. Tentara pilihan saja yang dapat masuk menjadi Kempetai. Pilihan dalam bela diri dan kejamnya. Kalau Kempetai sudah turun tangan, itu berarti mati ”Mengapa dia sampai ditangkap Kempetai….?” Imam itu bertanya dengan lemah. ”Dua malam yang lalu dia mencuri senjata jepang di Kubu Gadang. Bersama Malano dan beberapa pejuang kita. Dua orang sudah tertangkap. senjata yang berhasil dicuri hanya enam pucuk. Kini mereka berdua berada dalam masjid…..” ”Dalam masjid?” ”Ya…” Tanpa bicara ba atau bu, Haji itu bergegas turun diikuti oleh kedua lelaki tadi. Kemudian juga Saleha. Si bungsu menarik nafas panjang. Mengambil kain lap dan kembali membersihkan mukanya. Malano tertangkup, Demikian pula Sawal. Abang Saleha anak Imam ini. Yang dulu sering menyebut dirinya penjudi kapir. Sawal memang terkenal santri. Bukan karena ayahnya Haji dan imam di masjid. Tapi pemuda itu memang pemuda yang soleh. Dia guru mengaji di kampung ini. Kini anak muda itu ditangkap Kempetai karena ketahuan mencuri senjata di Markas jepang di Kubu Gadang. Bah, anak muda itu terlalu bagak. pikirnya sambil tetap bergolek di tikar. Di depan masjid berdiri tiga orang kempetai. Mereka tegak berkacak pinggang. Penduduk berdesak tak jauh dari halaman masjid tersebut. Ketiga Kempetai itu tak membawa bedil panjang. sebagai anggota-anggota Kempetai pilihan, mereka hanya membawa sebuah pistol dan samurai. ”Suruh anakmu keluar Haji. Kalau tidak. kami akan menyeretnya keluar” Seorang di antara Kempetai itu berkata. Kempetai itu bertubuh gemuk. Saleha menangis dekat ayahnya. Imam itu tak bersuara. Dia masuk ke mesjid. Di dalam, dekat mihrab, dia temui Sawal duduk dengan wajah pucat. Bahunya luka. Nampaknya terjadi perkelahian ketika dia mencuri senjata bersama beberapa orang pejuang Indonesia. Di dekatnya duduk Malano. Lelaki yang tadi memukuli si bungsu. Dia adalah seorang pejuang bawah tanah. Yang bersumpah akan membunuh jepang sebanyak mungkin. Sebagai balas dendam atas kematian gurunya Datuk Berbangsa satahun yang lalu. Haji itu menatap Malano dengan diam. Banyak yang ingin dia ucapkan. Namun tak ada kata yang bisa terucapkan dalam saat seperti ini. Dia ingin menyuruh anaknya melarikan diri. Namun kalau dia melarikan diri, penduduk yang lain akan ditangkap jepang sebagai gantinya. Bukankah dulu Saburo pernah berkata, kalau ada serdadu jepang yang mati, maka setiap satu jepang yang mati akan dibalas dengan membunuh tiga penduduk. Kalau anaknya dan Malano melarikan diri, maka penduduk yang tak berdosa akan menjadi korban pembunuhan jepang. Hal ini sudah beberapa kali terjadi di kampung-kampung sekitar ini. Tiba-tiba di luar terdengar pekikan Saleha. Imam itu dan Sawal terkejut. Mereka berlarian ke pintu. Di luar mereka lihat Saleha berada dalam pelukan salah seorang Kempetai. Begitu Sawal muncul, Kempetai yang gemuk itu mencabut pistol dan menembakkannya. Sawal berlari kembali ke dalam masjid. Peluru pistol menghantam ayahnya. Haji itu terpekik dan rubuh. Jepang gemuk itu memberi perintah kepada kedua temannya. Kedua Kempetai itu menghambur masuk dengan sepatu yang dipenuhi lumpur. Penduduk jadi kaget dan berang melihat serdadu itu masuk ke rumah ibadah mereka tanpa membuka alas kaki. Namun marah mereka terpaksa mereka pendam. Siapa pula yang berani marah pada Kempetai? Meski mereka hanya bertiga, tapi itu berarti sama dengan sebuah pasukan besar. Terdengar bentakan dan pekikan di dalam. Kemudian penduduk melihat Sawal dan Malano digiring keluar dengan tubuh luka-luka. ”Kedua lelaki ini, dan anak gadismu terpaksa kami tahan pak Imam. Gadismu ini hanya kami jadikan sebagai jaminan agar abangnya tidak melarikan diri .Jangan khawatir, dia akan aman-…” jepang gemuk itu berkata dengan senyum memuakkan. Imam tersebut hanya duduk tersandar ke pintu. Luka di bahunya mengalirkan darah. Sementara Saleha meronta-ronta melepaskan diri. Tapi yang memegang tangannya terlalu kuat buat dia lawan. Ketiga jepang itu memutar tubuh dan mulai melangkah meninggalkan halaman mesjid itu. Tiba-tiba mereka tertegun. Seorang lelaki, berbaju gunting cina, berkain sarung melintang di bahunya, bercelana gunting Jawa tegak menghadang jalan mereka. Si bungsu Ya. Dialah yang tegak menghadang itu. Di sudut bibirnya masih menetes darah dari bekas dilanyau Malano dan teman-temannya beberapa menit berselang. ”Apakah bangsa kalian tak beradab sedikitpun, sehingga masuk rumah ibadah tanpa membuka sepatu yang kotor?” Anak muda itu berkata dengan nada suara yang setajam pisau. Jepang-jepang itu tertegun. Mereka lebih banyak heran daripada kaget. Heran ada lelaki pribumi yang berani menghadang Kempetai. Apakah lelaki ini edan, pikir mereka. Namun yang bertubuh gemuk itu segera ingat anak muda ini. ”Hei beruk. Bukankah kamu orang yang kami tangkap malam itu ketika bersembunyi dekat Sasaran silat rahasia itu? Ya, engkaulah orangnya. Kamu orang anak Datuk Berbangsa jahanam itu ya?” penduduk pada terdiam. ”Tangkap anak jahanam ini. Ayahnya seorang pemberontak. Anaknya tentu sama saja…” si gemuk itu berkata lagi. Si bungsu segera ingat bahwa si gemuk ini adalah jepang yang dulu memimpin penangkapan atas pesilat-pesilat di sasaran rahasia yang waktu itu dilatih oleh Datuk Maruhun. ”Lepaskan gadis itu…” dia berkata perlahan. ”Tangkap dia” perintah si gemuk menggelegar.bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: