tikam samurai (bagian 2)


Kini dia mengingat kembali semua peristiwa itu. Wajahnya yang murung, matanya yang sayu, terangkat perlahan. Dia menarik nafas panjang. Seharusnya dia sudah berhenti main setelah menang besar sepekan yang lalu. Dia berniat membeli sawah, atau pergi merantau dengan uang itu. Hidup di kampung ini terasa membosankannya. Tapi dasar penjudi, begitu mengetahui ada penjudi lain, dia segera berselera lagi. Dan inilah akibatnya. Lambat-lambat dia merangkak ke sumur. Mencuci muka dan sekujur tubuhnya yang bergelimang luluk. Meminum air sumur itu beberapa teguk. Kemudian naik kembali ke surau.
Dia memungut beberapa puntung rokok daun nipah. Membuka gulungannya. Kemudian mengumpulkan tembakau dari sisa rokok itu. Dari kertas usang yang masih menempel di dinding surau dia menggulung sebatang rokok dengan tembakau sisa tadi. Lalu bersandar ke tiang tengah. Lalu mengambil anak korek api yang terse¬rak. Lalu membakar rokoknya. Matanya terpejam mengisap rokok assembling itu. Saat matanya yang sayu terpandang pada kertas-kertas koa yang berserakan, dia memungutnya beberapa buah.
“Babi halus … Jarum udang … Tali sirah…” katanya sambil melemparkan koa itu ke lantai satu demi satu seraya menyebutkan nama kertas-kertas tersebut.
Rokok itu tak habis dia hisap. Dia terbatuk-batuk. Pikirannya melayang pada Baribeh dan ketiga temannya. Dia bersumpah untuk mencari mereka. Akan dia ajak lagi berjudi. Dan dia yakin akan mengalahkan orang-orang itu. Hanya kini dari mana dia harus mencari modal? Akan dia jualkah kambingnya yang tiga ekor itu? Ah, Ibu dan ayah¬nya pasti marah. Marah ibunya mungkin dapat dia amankan. Ibunya pa¬ling-paling marah sebentar. Yang dia takuti adalah ayahnya.
Ayahnya suka main tangan. Mentang-mentang guru silat. Puih, dia jadi mual melihat ayahnya yang dia anggap banyak lagak itu. Apalagi kalau ayahnya sudah mengajar di sasaran silat. Hatinya jadi bengkak melihat. Dia paling benci melihat orang belajar silat. Apa untungnya belajar silat? Men¬ding belajar judi. Uang dapat perut kenyang, pikirnya. Meski telah berkali-kali dia dikeroyok orang dalam berjudi, dan berkali-kali pula ayah dan kakaknya memaksa untuk belajar silat, namun dia tetap tak menyukai silat.
Dia memang termasuk anak yang aneh. Ayahnya adalah seorang guru silat ternama, demikian pula kakaknya. Tapi dia sendiri lebih suka main koa atau main layang-layang. Dia tahu ayahnya tak menyenangi perangainya itu. Tapi apa pedulinya. Dia tidak pernah menyusahkan mereka toh? Dia memang beberapa kali dihajar oleh pejudi-pejudi lain. Sering babak belur dalam perkelahian. Tapi dia tak pernah mengadu pada ayah dan saudaranya yang jagoan silat itu.
Tidak. Pantangan baginya untuk mengadu. Bagi dia judi merupakan suatu lambang kejantanan. Kenapa hanya pesilat yang disebut jantan? Kenapa pejudi tidak? Bukankah berjudi juga membutuhkan keahlian? Malah baginya judi lebih tinggi nilainya dari silat. Dalam judi orang mengadu otak. Sementara dalam silat orang mengadu otot.
Nah, secara harafiah bisa diartikan bahwa dia jauh lebih berotak dari pada ayah atau pesilat manapun! Begitu alur fikirannya. Tambahan lagi, berjudi dia anggap mempunyai seni yang tinggi. Dalam main dadu dibutuhkan semacam firasat yang tajam untuk mengetahui ”mata” berapa yang akan muncul di atas. Dan diperlukan perhitungan yang teliti untuk gim sampai tiga kali dalam main koa. Dalam silat mana ada seninya? Yang ada hanya main sepak, pukul, siku, tangkap, cekik, atau tendang uncang-uncang di kerampang, atau banting. Bah, benar-benar keras dan kasar. Dia benar- benar tak menyukainya.
Dia lalu tertidur karena lelah. Dalam tidurnya dia bermimpi jadi seorang pesilat yang jauh lebih tangguh dari ayah dan kakaknya. Bahkan jauh lebih tangguh dari pesilat pesilat tangguh manapun jua. Lewat tengah hari dia ter¬bangun. Dia menyumpahi mimpinya yang jadi pesilat tangguh itu. Kenapa tak mimpi menjadi seorang raja judi. Dengan masih menyumpah-nyumpahi mimpinya dia turun dari surau tersebut. Kakinya melangkah ke arah kampung. Perutnya terasa amat litak. Ketika akan sampai di rumahnya, sebuah rumah gadang beratap ijuk, dia lihat beberapa perem¬puan berada di rumah. Dia memutar ke belakang. Lewat pintu belakang dia naik ke rumah. Terus ke dapur. Di dapur dia berpapasan dengan kakaknya.
“Hei Bungsu, orang mencari . . . Astaga ! Berantam lagi kau ya … ?”
Anak muda itu, yang merupakan anak yang paling bungsu di antara mereka dua beradik, dan karena itu dia dipanggil dengan sebutan si Bungsu, tak menghiraukan kekagetan kakaknya. Dia mengambil piring. Dan mulai menyenduk nasi.
“Duduklah ke sana. Jangan mengambil nasi sendiri. Awak laki-laki. Biar kakak ambilkan . .”
“Ah tak usah susah-susah. Saya bisa mengambil sendi¬ri “
“Duduklah, tukar pakaianmu. Di depan ada tamu yang akan bicara denganmu”.
“Tak ada urusanku dengan mereka . .”
“lni tentang pertunanganmu . .”
Dia tetap tak peduli, yang jelas dia ingin makan sekenyang-¬kenyangnya. Ketika mulai menyuap, ibunya muncul. Perempuan itu tertegun melihat anak bungsunya ini. Dia tak usah bertanya kenapa muka dan tubuhnya biru-biru. Tak usah ditanyakan kenapa pakaiannya robek-robek. Perempuan ini sudah arif akan apa yang telah terjadi. Dia tatap anaknya yang tengah makan dengan lahap itu.
Sementara sambil makan, sesekali sudut mata si Bungsu melirik pada ibunya. Selesai makan, setelah tiga kali bertambuh, dia mencuci tangan. Kemudian berniat untuk turun lewat pintu belakang. Tapi dia terhenti tatkala terdengar suara ibunya yang sejak tadi berdiam diri.
“Tukarlah pakaian dengan yang bersih. Di depan ada tamu yang ingin berunding.”
“Merundingkan pertunangan saya dengan Reno?”
“Ya. .”
“Apa lagi yang harus dirundingkan. Bukankah kami sudah bertunangan?”
”tapi . .”
“Soal perkawinan?”
Perempuan itu menggeleng. Si Bungsu terhenti di tangga melihat geleng kepala ibunya.
“Mereka ingin mengembalikan tanda dan memutuskan pertunangan?” tanyanya dengan datar.
Ibunya tidak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Dia lalu melangkah cepat-cepat ke ruang tengah tanpa menukar pakaiannya yang compang camping itu. Ayahnya dan empat lima perempuan yang hadir jadi kaget melihat kemunculannya. Ayahnya nampak sekali merasa terpukul atas kehadiran anaknya yang tak selesai itu.
Ayahnya, dan semua orang di ruang depan itu, segera tahu bahwa anak ini baru saja kalah dalam perkelahian setelah berjudi. Dia pasti menang pada mulanya. Dan kemenangannya diakhiri de¬ngan perkelahian. Dan dialah yang kalah paling akhir. Sebab kalau dia yang menang, dia pasti pulang dalam keadaan sehat wal afiat.
“Akan mengembalikan tanda pertunangan itukah Etek kemari?”
Dia bertanya pada salah seorang perempuan yang jadi tamu ibunya sambil tetap tegak.
“Bungsu! Beradab sedikit. Tukar pakaian dan duduk berunding dengan sopan!!” Ayahnya membentak.
Dia menatap ayahnya. Dia memang takut pada ayahnya ini. Tapi kali ini rasa takutnya itu dia tekan kuat-kuat. Tanpa mengacuhkan perintah ayahnya dia menatap lagi pada perempuan yang datang itu. Lalu suaranya terdengar berkata dengan pasti.
“Kalau dulu ketika bertunangan saya tidak dibawa berunding, maka kini biarlah saya yang memutuskannya. Pertunangan ini memang lebih baik dibatalkan….”
“Bungsu!” ayahnya membentak.
Namun dia tak memperdulikan bentakan ayahnya. Tak kalah kerasnya dari bentakan si ayah, dia berkata:
“Saya memang bukan pendekar. Bukan pula guru yang bisa diharapkan untuk membelikan emas dan sawah bagi isteri saya. Karena itu saya tak berniat untuk menikah. Nah, ambillah cincin ini kembali!”
Sehabis ucapannya dia membuka cincin di jari manis¬nya. Kemudian melemparkannya ke pangkuan perempuan yang tadi dia sebut dengan Etek itu. Kemudian dia melang¬kah ke belakang. Melewati Ibunya yang tertegak di pintu teng¬ah. Kemudian turun. Melewati kakaknya yang tegak di dapur.
“Anak yang benar-benar tak beradab. Tak bermalu. Tak dimakan ajaran. . .” ayahnya menyumpah panjang pendek dengan muka yang merah padam.
Akan halnya perempuan-perempuan yang datang itu, tak bisa bicara sepatahpun. Kejadian sebentar ini memang luar biasa hebatnya bagi mereka. Mereka memang menghendaki pertunangan diputuskan. Tapi tak terpikirkan oleh mereka akan begini caranya.
Renobulan adalah gadis tercantik di kampung ini. Banyak lelaki jatuh hati dan bersedia berkorban untuknya. Tapi setahun yang lalu dia telah ditunangkan dengan si Bungsu. Orang tahu bahwa pertunangan itu hanya karena ikatan kekeluargaan saja. Keluarga Reno dan keluarga si Bungsu masih berkait-kait famili. Dan kedua keluarga mereka termasuk keluarga yang terpandang di kampung itu.
Terpandang dalam turunan dan harta. Sudah jadi tradisi, mereka mengikat perkawinan sesama mereka. Artinya mereka tetap menjaga kelestarian turunan dan menjaga agar harta pusaka tak jatuh ke tangan “orang luar”. Padahal semua orang berani bertaruh, bahwa Reno yang cantik itu pasti tak menyukai si Bungsu.
Bah, apa yang diharapkan gadis secantik dan selembut Renobulan itu dari seorang lelaki seperti si Bungsu? Wajahnya selalu murung. Matanya sayu seperti tak semangat hidup. Pemalas dan pejudi luar biasa. Penakut Allahurobbi. Soal judi, tak satupun orang-orang di kampung ini, bahkan sampai ke kampung-kampung lain, yang tak tahu bahwa anak muda ini adalah hantunya judi. Semua laki-laki yang pernah jatuh hati pada Reno memaki orang tuanya sebagai orang tua mata duitan. Yang bersedia menjual anak gadisnya demi menjaga harta warisan.
Orang tua laknat, rutuk mereka. Tapi orang tua Reno nampaknya juga punya persyaratan. Mereka berusaha agar si Bungsu itu merubah perangainya. Tapi apa daya, anak ini memang tak pernah berobah. Dia malah menjadi bahan gunjing dan bahan ejekan sesama besarnya. Dan siapa pula yang mampu bertahan bertunangan dengan lelaki seperti itu?
Si Bungsu melangkah turun dengan hati kesal. Pertunangannya memang termasuk pertunangan yang aneh. Sejak bertukar cincin setahun yang lalu, dia baru bertemu dengan tunangannya itu sebanyak tiga kali. Dua kali di pasar Jumat dan sekali ketika sembahyang Hari Raya.
Dalam tiga kali pertemuan itu, tak sepatahpun mereka sempat bicara. Mereka hanya bertatapan sejenak dalam jarak yang jauh. Kemudian dia sibuk dengan teman-temannya. ltulah modelnya pertunangan itu. Dia bukannya tak tahu bahwa Reno adalah gadis cantik yang jadi rebutan banyak orang. Tapi dia tak mau gadis itu menyangka bahwa dia termasuk salah satu di antara lelaki yang memburu cintanya. Puih!
Kini pertunangannya yang tak berkelincitan itu sudah tamat riwayatnya. Hatinya jadi lega. Ya, dia jadi lega. Sebab dia semakin bebas untuk berjudi.
”Hmm, kemana harus mencari modal untuk berjudi?”, pikirnya sambil terus melangkah meninggalkan surau tua itu.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 393 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: